Kamis, 23 Agustus 2012

Bismillah! Menyerap Energi Ilahiyah (Pintu Pertama)


Dengan nama Allah
Yang Maha Mengasihi (jagat raya dan seisinya)
Yang Maha Mencintai (para penempuh jalan kebenaran)

-- Terjemah Maknawiyah, Al-Fatihah (1): 1

Kata Kunci: Allah, Maha Mengasihi, Maha Mencintai

Bismillâhirrahmânirrahîm atau biasa disebut basmallah adalah sebuah kalimat sakti. Dengannya kita memulai segala hal. Tanpanya apapun yang kita kerjakan menjadi sia-sia,” kata Mamik Seni memulai tadarusan pagi kedua.
“Termasuk hal yang buruk sekalipun, mamik?” sergah Ece.
“Ya, termasuk pekerjaan yang buruk. Tetapi dengan syarat ucapkanlah dengan sepenuh hati. Mudahan setelah itu kamu malu sendiri lalu tidak jadi melaksanakan hal yang buruk itu,” kata Mamik Seni berdiplomasi. Ada senyum tersungging.
Ece tersipu. Him dan Amang mengusap punggunya. “Makanya jangan punya niat buruk.” Mereka serempak berbisik ke telinga Ece.
“Baiklah, kita memulai tadarusan kedua ini. Ulama berbeda pendapat apakah basmallah termasuk bagian dari ayat al-Fatihah atau tidak, “ kata Mamik Seni melanjutkan, “Namun sebagian besar mengatakan ia termasuk.  Karena itu kita dapatkan hampir pada semua mushaf Quran yang diterbitkan di berbagai belahan dunia, termasuk yang hanya berbentuk terjemahan, basmallah dicantumkan sebagai ayat pertama surat al-Fatihah. Basmallah juga ditulis sebelum memulai setiap surat—kecuali pada surat al-Bara’ah atau lebih dikenal dengan at-Taubah—meskipun tidak dimasukkan sebagai bagian dari ayatnya.”
“Mengapa, Mik?” tanya Amang penasaran.
“Itu nanti kita dijelaskan ketika membahas surat terkait. Tentang Bismillah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Setiap pekerjaan tanpa diawali dengan bismillâh adalah cacat.’ Meskipun hadits ini dianggap dhaîf, namun tidak satupun ulama yang menolak substansi pesan yang dikandungnya. Mereka bersepakat bahwa setiap pekerjaan mestilah diawali dengan basmallah, yaitu sebuah kesadaran akan pelibatan dan kehadiran Allah dalam setiap hal yang kita lakukan.”
“Maksud cacat di sini bagaimana, Mamik?”
“Cacatnya pekerjaan yang tidak diawali dengan bismillah itu, kata seorang ulama, karena kita berarti melupakan Tuhan, Allah SWT. Kita lupa bahwa semua energi untuk bekerja atau beraktifitas itu merupakan karunia Allah SWT, pemilik alam semesta dan isinya. Allah adalah sumber semua energi, asal segala sesuatu, maka semua harus dikembalikan ke pemiliki asalnya. ‘Tidak ada sesuatu apapun kecuali pada Kami lah sumbernya,’ firman Allah dalam al-Hijr (15): 21.”
“Maka mengucapkan bismillah itu,” sela Ece, ”sesungguhnya untuk menegaskan pengakuan atas keilahian Allah dan bahwa Dialah sumber dan asal segala sesuatu. Apa saja yang kita lakukan sesungguhnya menggunakan karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita. Begitu, mamik?”
“Benar sekali,” jawab Mamik Seni. “Selain itu, ketika seseorang memulai suatu kegiatan dengan bismillah (dengan atau atas nama Allah), seperti dijelaskan oleh As Sa’di, maka orang itu telah menyematkan semua nama-nama Allah yang indah (al asma al husna) pada kegiatan itu. Dan itu berarti ia berharap agar semua potensi kekuatan ilahiyah itu dapat terserap dan menjadi energi yang membantunya dalam bekerja.”
“Subhanallah, saya ingin kekuatan ilahiyah itu. Bisa jelaskan lebih lanjut, Mamik?” Ece terkesima.
“Ketika seseorang mengucapkan Bismillah dalam memulai suatu pekerjaan, berarti sebuah tindakan telah diikrarkan atas nama Allah. Orang itu seolah-olah mengucapkan: ‘Dengan dan atas nama-Mu, ya Allah, aku melakukan pekerjaan ini.’ Maka seketika itu, sadar atau tidak, aspek keilahian telah dilekatkan pada tindakan atau pekerjaan itu. Dengan kata lain kita telah menjadi duta Allah dalam pekerjaan itu.”
Amang hanya diam. Sementera Him dan Ece saling lirik. Udara pagi di kampung Tinggar yang segar tak mampu membuat mereka duduk dengan tegak.
“Saya paham maksudnya, mami,” kata Ece, “tetapi kedengarannya agak berat. Maksud saya, itu terasa begitu sakral sehingga secara batin terasa berat sekali. Hmmm, tetapi kalau dipikir-pikir memang demikian adanya. Itu seumpama seseorang yang diutus oleh seorang raja, misalnya, maka ketika itu ia sesungguhnya representasi atau ‘perwujudan’ dari sang raja. Apa saja yang dia lakukan akan dipandang sebagai sikap resmi raja.”
“Ya, ini bisa jadi sebuah beban,” Him menimpali. “Tetapi bisa jadi juga sebaliknya. Merenungi lebih dalam makna Bismillah, kita akan paham bahwa ketika setiap melakuan sesuatu dengan mengawalinya dengan Bismillah akan memberikan kekuatan luar biasa, seperti penjelasan mamik tadi.”
Tadarusan pagi ini menjadi semakin hangat. Semua ikut memberi tanggapan.
“Karena itulah mengapa Rasulullah disebut Quran berjalan. Karena beliau adalah utusan, rasul, representasi dari kalamullah, titah Allah. ‘Seperti apa akhlak Rasulullah itu?,’ tanya seseorang kapada sayyidah Aisyah. ‘Seperti Quran. Beliau adalah Quran yang berjalan,’ jawab Aisyah.” Mamik Udhin menjelaskan dengan tenang namun bertenaga.
“Ini mengingatkan saya pada hadits Qudsi, bahwa ketika seseorang telah mencapai kedekatan kepada Allah maka Allah akan menjadi pendengarannya, penglihatannya, mulutnya, dan sebagainya sebagai perwujudan nilai-nilai ketuhanan. Artinya hamba itu merepresentasikan Allah atau lebih pasnya cahaya Allah memencar dalam tindak tanduknya.” Amang mencoba memberi sudut pandang berdasarkan sebuah hadits Qudsi yang pernah ia baca.
“Saya salut. Nampak kalian suka membaca. Amang, jangan berhenti, teruslah belajar. Jadilah pembelajar sekajati,” nasehat Mamik
Amang hanya nunduk agak malu mendapat pujian. “Siap! InsyaAllah mamik,” katanya pelan sedikit nyengir.
“Pertanyaannya, apa nilai-nilai  dari basmallah yang dapat diwujudkan dalam dunia praktis? Mungkinkah kita menghubungkan filosofi Basmallah ini dengan perinsip-prinsip kerja dan sikap kita sehari-hari?” Mamik Seni memberi tantangan.
“Pertama, saya kira,” kata Ece, “kesadaran ilahiyah ini akan menuntun kita untuk berusaha melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Kita akan memiliki dorongan kuat untuk berusaha sekuat tenaga melakukan hal-hal yang baik saja. ‘Allah itu Baik, Maha Baik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja.”
“Satu. Kedua?” 
“Kedua, kita merasa didampingi dan tentunya disupport oleh suatu kekuatan yang maha dahsyat,” Him juga angkat biacara. “Jika seseorang yang kita cintai dan mencitai kita mendampingi dan memberi dukungan kepada kita ketika melakukan sesuatu, tentulah kita merasa tenang dan damai. Kita dapat bekerja dengan kekuatan dan konsentrasi penuh. Bagaimana jika yang kita cintai dan mencintai kita itu adalah Allah? Pastilah ketenangan dan kedamaian itu akan lebih dahsyat lagi. Jika Dia yang Maha Kuat, yang memiliki apa saja yang ada di langit dan bumi ini, mendukung dan menyokong penuh kita, tentulah kekuatan kita akan menjadi berlipat-lipat.
“Maka, inspirasi yang keluar dari kita adalah inspirasi yang bening. Kecerdasan yang terpancar adalah kecerdasan yang tercerahkan. Semangat yang timbul adalah kekuatan yang telah diberi energi tak terbatas.”
“Dua. Ketiga?”
Amang, Ece dan Him diam sejenak tetapi tatap fokus ke tantangan Mamik Seni.
“Ketiga,” sergah Nakir, “dukungan dan kekuatan di atas membuat kita akan dapat melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Hal ini akan tampak dalam sikap yang siap menolong, murah hati dan ramah pada siapapun. Inilah inti ar-Rahmân.
“Ini seperti penjelasan yang sering kita dengar, bahwa rahmân adalah kasih sayang Allah yang diberikan kepada siapa saja, tanpa mempertibangkan seseorang itu baik atau buruk, beriman atau mengingkari, bersyukur atau membangkang. Semua mendapat limpahan kasih sayang Allah.
“Itulah wujudnya janji Allah sendiri bahwa Dia telah mewajibkan kasih sayang untuk diberikan kepada seluruh makhluk-Nya. Dan itulah, menurut heman saya, Mamik, yang perlu kita contoh dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bekerja, dalam memberi pelayanan dan lain-lain. Bekerja itu harus sepenuh hati—dengan dasar cinta, kata orang sekarang.” Nakir berbicara penuh percaya diri bak ustadz yang baru tamat kuliah.
Tiga temannya yang lain hanya diam. Juga Mamik Seni. Tetapi diam mereka kali ini adalah diam terkesima.
“Tiga. Keempat?”
Tidak ada jawaban.
“Baiklah, saya nyumbang yang keempat,” kata Mamik Seni, “yaitu perlunya memberi reward atau penghargaan khusus kepada orang atau pihak tertentu yang memiliki pencapaian khusus atau istimewa. Penghargaan itu tak harus berbentuk materi, meskipun biasanya pemberian materi akan lebih berkesan. Namun, setidaknya, sekedar ucapkan terimakasih atas suatu capaian atau kesuksesan, sekecil apapun bentuknya, yang ditunjukkan oleh seseorang dapat merupakan penghargaan yang membahagiakan. Inilah bentuk ar-Rahîm, suatu atribut Allah SWT yang memberi khusus bagi mereka yang setia dan sepenuh hati menjalankan ajaran-Nya.
“Semoga kita bisa mewujudkan nilai-nilai bismillâhirrahmânirrahîm dalam kehidupan sehari-hari. O ya, saya merasa bahagian pagi ini. Antum semua sudah mulai membuka pikiran. Terimakasih atas sharing ilmunya. Semoga Allah selalu melimpahi kita dengan kecerdasan para Nabi, para shabat dan para alim ulama yang telah berjasa besar bagi kita semua,” kata Mamik Seni menutup penjelasannya lalu memberi salam.
“Maaf, Mik. Kedengarannya pas kalau dijadikan nilai-nilai yang mendasari tata kelola kerja yang baik. Good governance, mamik,” kata Ece nyeletuk.
“Beleh juga tuh. Ente kan orang kantoran. Coba buatkan juklak-juknisnya.”

Masjid al Makmur, Cileduk, 21 Ramadan 1433/10 Agustus 2012

Rabu, 22 Agustus 2012

Al-Fâtihah dan Tujuh Pintu Semesta



Dengan nama Allah, Maha Mengasihi, Maha Menyayangi (1).


Segala puji bagi Allah
Pengembang, Pendidik, Pemelihara alam semesta
Yang Maha Mencintai jagat raya dan seisinya
Yang Maha Menyayangi para penempuh jalan kebenaran
Penguasa mutlak Hari Pertanggungjawaban

Hanya untuk-Mu kami persembahkan hidup ini
Dan hanya dari-Mu kami mengharap pertolongan (2-5).

Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan yang benar
Jalan orang yang Engkau anugrahi kesempurnaan nikmat
Yang tidak pernah membuat-Mu murka,
Dan tidak pula jalan orang yang tersesat (6-7).

Terjemah Maknawiyah al-Fatihah (1): 1-7

Kata Kunci: Allah, kasih sayang, semesta alam, penguasa, nikmat, jalan kebenaran, jalan kesesatan.
Hari ini adalah hari pertama majlis tadarusan dimulai. Mamik[1] Seni[2], Amang, Nakir, Him dan Ece telah bersepakat beberapa hari yang lalu bahwa mereka akan secara rutin mengaji bersama sehabis salat subuh di masjid al-Amin. Ini sekaligus menghidupkan kembali masjid tua peninggalan papuk-balo’[3] mereka di kampung Tinggar yang beberapa tahun belakangan tak terurus. Mereka sengaja tidak memilih masjid at-Taubah yang merupakan masjid utama kampung mereka, karena masjid itu sudah cukup terurus dengan baik. Mereka berharap masjid tua yang merupakan asset berharga tapi tak terurus ini suatu saat menjadi lembaga pendidikan yang mumpuni bagi anak-cucu mereka.
“Ketika duduk bersama Jibril, Rasulullah mendengar suara dari atas mereka,” Mamik Seni memulai tadarusan pertamanya. “Jibril memandang ke atas dan berkata: ‘Ini adalah suara pintu gerbang surga yang terbuka hari ini. Pintu ini tidak pernah terbuka sebelumnya.’ Kemudian sesosok malaikat turun melalui pintu itu dan mendatangi Rasulullah. ‘Berbahagialah atas berita baik tentang dua cahaya yang telah diberikan kepadamu, wahai Rasul,’ katanya kepada Nabi. ‘Cahaya ini tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum engkau, yaitu surat al-Fatihah dan dua ayat terakhir surat al-Baqarah. Engkau tidak membaca satu katapun darinya kecuali akan dianugerahi seluruh kebaikan yang ada pada keduanya’ (Muslim No. 1.759).”
“Rasulullah pernah juga menjelaskan, ‘Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, Alllah tidak menurunkan pada Taurat, Injil, Zabur dan, bahkan (tidak pada) al-Qur`an sendiri, sesuatu yang sebanding dengan al-Fatihah’ (Sunan Tirmidzi, No. 2.800).”
Suasana cukup tenang. Amang, Nakir, Him dan Ece menyimak dengan khidmat.
“Imam Tirmidzi menjelaskan,” kata Mamik Seni melanjutkan, “al-Fatihah adalah Induk Kitab (ummul kitâb), atau Intisari Quran (ummul qur’ân). Ia adalah Tujuh yang Dibaca Berulang-ulang (as-sab’ul matsâniy). Bahkan surat ini disebut sebagai Quran yang Agung itu sendiri.”
“Kalau diibarakan makanan, maka al-Fatihah itu ibarat ekstrak, sari pati dari sebuah makanan yang satu biji kapsul kecil senilai dengan beberapa kilo,” kata Nakir mencoba menghangatkan suasana.
“Ya, kira-kira semacam itu. Itulah mengapa menurut Ibnu Abbas al-Fatihah memuat nilai-nilai dasar Quran (Asâsul Qur’ân). Lebih jauh lagi Imam Ibn Jarir at-Tabari menjelaskan bahwa al-Fatihan mensarikan semua kandungan Quran, karena itulah ia disebut Indul Kitab (Umm al-Kitab). Orang arab biasanya menyebut sesuatu yang secara tepat memuat inti sari sesuatu atau mengandung hal-hal paling penting darinya sebagai al-umm (induk). Maka, seperti kata Imam Ibnu Katsir, semua pesan Quran kembali kepada kandungan makna al-Fatihah ini.
“Dengan demikian surat al-Fatihah memiliki kedudukan sentral. Ia adalah inti Quran. Nilai-nilai yang termuat di dalamnya merupakan fondasi universal yang membawa keselamatan dunia akhirat. Nilai-nilai itu, jika dipegang teguh, memastikan seseorang ‘mendapatkan apa yang dia minta,’ seperti ditegaskan sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah.
“’Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku secara seimbang,” kata Allah SWT, ‘dan hamba-Ku akan dianugrahi apa saja yang ia minta.’ Karena itu ketika sang hamba berkata, ‘Segala puji bagi Allah, Pengembang, Pendidik, Pemelihara alam semesta,’ Allah menimpali, ‘Hambaku telah memuji-Ku.’ Ketika dia berkata, ‘Yang Maha Mencintai, Yang Maha Menyayangi sepenuhnya,’ Allah berkata, ‘Hamba-Ku telah memuja-Ku.’ Ketika berkata, ‘Penguasa mutlak Hari Pertanggungjawaban,’ Allah menimpali, ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’

“’Ketika hamba berkata, ‘Hanya untuk-Mu kami persembahkan hidup ini. Dan hanya dari-Mu kami mengharap pertolongan,’ Allah berkata, ‘Inilah antara Aku dan hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya.’ Ketika dia berkata, ‘Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan yang benar. Jalan orang yang Engkau anugrahi kesempurnaan nikmat, yang tidak pernah membuat-Mu murka, dan tidak pula jalan orang yang tersesat,’ Allah menimpali dengan kata sama, ‘Inilah antara Aku dan hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’
Mamik Seni menutup pengantarnya tentang al-Fatihah dengan mengutip hadits di atas. Ia tak menjelaskan apapun, sebab baginya semua sudah cukup jelas. Ia hanya membiarkan Amang dan teman-temannya merasakan sendiri secara langsung dari penjelasan hadits dan para ulama di atas. Karena itu ia juga lebih menitikberatkan pada kesan, pada apa yang datang secara halus pada hati dan pikiran mereka. Dan dengan itu ia mengajak mereka bertadabbur, mengambil pelajaran dari untaian-untaian setiap ayat Quran untuk dijadikan pijakan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

 “Membaca surat Pembuka Quran ini secara perlahan dan memasukkan setiap kata dalam kebeningan hati,” kata Mamik Seni memulai tadabburnya, “terasa sebuah penegasan atas inti ajaran agama yang mulia ini.”
“Apa saja inti ajaran agama itu, Mamik?,” tanya Amang penasaran. 
“Al-Fatihah adalah sebuah penegasan tentang keimanan dan pengakuan atas Kemahabaikan Allah SWT,” suara Tua’ Seni dalam. “Surat ini juga berbicara bahwa  penyembahan, ketundukan, atau ‘ibâdah itu memang hanya pantas bagi-Nya. Ia juga menegaskan tentang berislâm sebagai hidayah, bahwa penyerahan diri dan kerelaan kepada keinginan-Nya adalan pilihan satu-satunya. Lalu ditutup dengan kemestian meniti hidup ini di atas jalan kebenaran, as-shirâth al-mustaqîm.
“Dialah Yang Maha. Pecinta Sejati,” kata Mamik Seni sedikit puitis. “Kasih-sayang-Nya menyeluruh, meliputi semuanya. Dialah Pemberi Yang Tulus. Pada keagungan-Nya segala keangkuhan luluh. Pada kemurnian cinta-Nya semua kebencian meleleh. Yang tinggal hanyalah keteduhan dan rasa hormat yang sangat dalam pada setiap makluk-Nya, bahkan kepada mereka yang menolak-Nya.”
Lalu tiba-tiba Mamik Seni menunduk sambil terbata-bata mengucapkan kata-kata berkut:
“Ya Rahman, dengan kasih-Mu, jadikan aku tunduk pada keagungan-Mu.
Ya Rahim, dengan cinta-Mu, jadikah aku patuh pada kehendak-Mu.
Jadikan aku, pikiranku, cita-citaku, perbuatan bahkan diamku berguna bagi kebaikan semesta. Arahkan aku meniti jalan nikmat, jalan cinta, jalan yang ruasnya adalah keindahan, bahu dan kerikilnya adalah pengingat yang mendamaikan.
Hindari kami dari angkara murka dunia yang menyesatkan. Jauhkan pikiran, lamunan, keinginan dan seluruh anggota tubuh kami dari jalan kesesatan, yang tercela, jalan yang menimbulkan caci maki dan amarah (al-maghdlûb ‘alaihim).”
Suasana masjid al-Amin yang sederhana dan tua terasa semakin teduh. Ada kekhusyukan yang menyelinap di antara sinar fajar matahari yang muncul dari celah Rinjani dan menerpa genteng-genteng yang kusam.
Beberapa detik sepi. Amang, Him, dan Ece yang biasa menemani Mamik Seni hanya diam. Mereka juga merasakan keheningan yang sama.
“Amin, amin. Perkenankan, ya Rabb, perkenankan” kata Mamik lirih memecah keheningan.
Amang dak kawan-kawannya juga mengucapkan amin. Tapi suaranya lebih parau lagi, hampir tak terdengar.
“Ada hal lain yang dapat kita ambil dari al-Fatihah,” Mamik Seni memulai lagi obrolannya, “setiap ayatnya menunjuki kita setidaknya sebuah nilai penting.”
Mamik Seni diam sejenak. Sengaja, untuk membangun rasa penasaran dan konsentrasi lawan bicaranya. Tiga puluh detik kemudian dia melanjutkan.
“Tujuh ayat yang terkadung dalam surat al-Fatihah ini mengajarkan kita tujuh nilai fundamental.  Tujuh nilai itu seumpama tujuh pintu menuju kesuksesan dunia dan akhirat—tujuh pintu yang, seperti penjelasan sebuah hadits, memastikan seseorang mendapatkan apa yang dia minta. Wa li-‘abdi mâ sa-`ala.
“Ayat pertama, bismillâhirrahmânirrahîm (Dengan nama Allah, Maha Mengasihi, Maha Menyayangi). Terjemahan umum bismillah adalah ‘dengan nama Allah’. Terjemahan yang lebih tepat sesungguhnya adalah ‘atas nama Allah.’ Karena itu bismillah mengajari kita untuk menyadari bahwa setiap tindakan kita sesungguhnya adalah atas nama Allah SWT. Apalagi Rasulullah SAW menegaskan agar segala sesuatu yang kita lakukan haruslah diawali dengan bismillah. ‘Setiap pekerjaan yang dimulai tanpa bismillah akan sia-sia,’ sabda beliau SAW.
Nah, ketika segala sesuatu yang kita kerjakan mengatasnamakan Allah maka kita sesungguhnya sedang menyerap energy ilahiyah. Kita berarti memiliki potensi kekuatan yang tak terhingga—sebuah kekuatan bersama alam semesta.
“Ketika kekuatan itu telah kita miliki maka kalimat ‘cukuplah Allah bagi kita, Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong’ (hasbunallâh wani’mal wakîl ni’mal maulâ wa ni’man nashîr) benar-benar terasa dan mewujud.”
“Begitu luar biasa kandungan kalimat ini,” kata Amang terkesima.
“Tentu, karena itulah mengapa ia menjadi kalimat atau ayat pertama surat al-Fatihah. Bahkan ayat pembuka keseluruhan Quran. Tetapi kita akan membahasanya lebih jauh nanti pada tadarusan berikutnya,” kata Mamik Seni.
“Ayat kedua, alhamdulillâh rabbil ‘âlamîn,” kata Mamik melanjutkan. “Ayat ini secara maknawi berarti ‘Segala puji bagi Allah: Pengembang, Pendidik, Pemelihara alam semesta.’ Rab pada ayat ini sebenarnya kurang tepat diartikan Tuhan. Ia memiliki makna yang luas: pemilik, pemelihara, pengembang, pendidik, pengayom dan lain-lain. Lebih jauh, ayat ini mengajari kita untuk selalu berfikir positif.
“Alhamdulillah, segala pujian bagi Allah. Ini juga berarti apa yang saja yang Allah ciptakan memiliki makna, bukan sekedar makna tapi juga kebaikan, peran penting dan sebagainya. Tak ada suatu apapun yang terjadi dan kita alami, asal diawali dengan bismillah, yang tidak baik. Semua memiliki kegunaan dan kebaikan. Karena Dia adalah rabbul ‘âlamîn: penjaga, pengayom, dan pelindung alam semesata dan segala yang terjadi padanya.”
“Walaupun saya yang pesek ini, Mamik?” tanyak Amang penasaran. Him dan Ece tak kuasa menahan senyum sambil terkekeh-kekeh.
“Ya. Kepesekanmu memiliki mistri, Amang. Kamu hanya perlu mencari cara menjadikannya kelebihan bagimu. Banyak kita dapati mereka yang menjadikan sesuatu yang dinilai kekurangan pada dirinya, dengan kesabaran dan kerja keras, menjadikannya justru sebagai nilai jual baginya,” timpal Mamik Seni bak seorang motivator.
“Mamik, tiang[4] ingin mengerti lebih jauh.” Amang Nampak penasaran ingin menggali tema ini. Tetapi ini adalah sesi pengantar maka diskusi lebih jelas akan disampaikan pada sesi-sesi selanjutnya.
“Kamu sabar, ya, Amang. Nanti kita bahas secara terperinci pada waktunya,” kata Mamik. “O ya, ayat kedua ini juga menegaskan tentang perlunya menjalin hubungan baik dengan alam semesta. Jika Allah telah dan terus menjaga bumi dan alam semesta ini, serta memastikan kebaikan atasnya maka tidak pantas bagi kita, sebagai makhluk-Nya yang terbaik, yang dikarunia akal dan fikiran, untuk merusaknya. ‘Jangan buat kerusakan di bumi ini. Sungguh Allah tidak memberi cintanya kepada orang yang membuat kerusakan,’ ancam Allah dalam surat Al-Baqarah, ayat.
“Inilah pintu kedua kesuksesan yang diajari oleh ayat kedua ini: Memuji Allah atas kebaikan yang Dia ciptakan pada setiap makhluknya dan memastikan kita menjaga alam semesta ini, menjalin hubungan baik dengannya dan tidak merusak kebaikan yang ada padanya,” Mamik Seni menutup pengantar untuk menjelaskan ayat kedua surat al-Fatihah ini.
“Nah sekarang ayat ketiga,” kata Mamik masih semangat. “Arrahmânirrahîm. Ayat ini bermakna ‘Yang Maha Mencintai jagat raya dan seisinya, Yang Maha Menyayangi para penempuh jalan kebenaran.’  Ia mengajari kita untuk mencintai dan menyayangi dengan sepenuh hati. Inilah pintu ketiga untuk memperolah keberkahan dan kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Dua kali dalam sebuah surat yang pendek sifat Allah ini disebut. Ini tentunya mengisyaratkan posisi penting atribut Allah ini. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Allah telah mewajibkan atas diri-Nya untuk menyayangi makhluknya, apa dan siapapun dia.”
“Ini sepertinya nyambung dengan semangat alhamdulilah tadi, Mamik,” kata Him mencoba menghubungkan ayat kedua dan ketiga.
“Benar sekali. Inilah pintu keberkahan dan kesuksesan ketiga. Semoga kita selalau dapat mengusung kasih dan saying dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, bumi, air dan semua maklhluk Allah,” harap Mamik Seni.
“Bagaimana dengan mâliki yaumiddîn, Mamik? Apa nilai-nilai yang dapat kita ambil dari ayat keempat ini?” tanya Ece mencoba menunjukkan minatnya pada diskusi.
Mâliki yaumiddîn (Penguasa mutlak Hari Pertanggungjawaban),” kata Mamik Seni, “mengajarkan kita untuk selalu bertanggungjawab. Apapun yang kita kerjakan, pililihan-pilihan apapun yang kita ambil, memiliki konsekwensi. Pintu keempat kesuksesan adalah ketika kita mempertimbangkan dan memperhitungkan apa saja yang kita ambil. Seseorang harus melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran dan pertimbangan.”
“Saya membayangkan seorang muslim itu benar-benar seorang pemikir. Dia harus cerdas, sebab dengan begitu dia dapat menimbang suatu langkah: baik atau buruk akibatnya,” komentar Him.
“Bener sekali, karena itu ente pada harus banyak membaca. Belajarlah terus, biar pada cerdas,” kata Mamik Seni serius tapi dengan gesture bercanda.
“Baiklah, sekarang kita memasuki ayat keliama,” Mamik Seni melanjutkan. “Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, Hanya untuk-Mu kami persembahkan hidup ini. Dan hanya dari-Mu kami mengharap pertolongan. Ayat ini mengajari kita melakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan fokus.
“Menurut beberapa ulama, inti Quran adalah al-Fatihah dan inti al-Fatihah adalah ayat kelima ini. Ini berarti bawah nilai yang dikandung ayat ini sangat utama. Bukankah sejarah sukses adalah sejarah kerja dengan sepenuh hati dan fokus? Bahkan seseorang boleh saja kurang memiliki kasih saying, tidak memiliki kesadaran ketuhanan, tetapi jika ia mengejar mimpinya dengan bekerja sepenuh hati dan fokus, melibatkan seluruh kemampuan dirinya, maka ia akan dapat mencapai kesuksesan yang ia inginkan.
“Saya kira ada hal lain yang sangat penting yang di singgung ayat ini, Mamik,” kata Him memberi tanggapan. “Ayat ini juga mengajari kita keikhlasan, yaitu dengan meniatkannya sebagai ibadah. Fokus menghendaki ketidakpedulian kecuali kepada tujuan utama. Hanya keikhlasan yang membuat kita tidak peduli pada halangan, cemoohan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Terakhir ayat ini juga menegaskan bahwa kita tidak bisa bekerja sendir, kita butuh pertolongan Allah, dan tentunya pertolongan Allah itu datang dari hamba-hambanya. Disinilah kerjasama, hubungan baik diperlukan.”

“Niatkan semuanya ibadah, bagus sekali itu,” jawab Mamik Seni akur. “Iyyâka na’budu, hanya kepada-Mu yang Allah aku mempersembahkan hidup ini. Ini artinya semua didasarkan niat lillâhi ta’âla. Lalu dalam proses itu semua selalulah memohon pertolongan. Berdoalah, mintalah pertolongan kepda-Nya, juga kepada hamba-hamba-Nya.”
“Jadi kalo boleh saya simpulkan, Mamik,” kata Him memberanikan diri, “Pintu kelima kesuksuksesan adalah bekerja dengan fokus, sepenuh hati, ikhlas dengan niat ibadah dan memastikan dukungan dari orang lain..”
Mamik Seni tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam memandangi Him sambil tersenyum tanda salut dan setuju atas kesimpulan yang dia sampaikan.
“Gunakan hati, juga pikiran kalian, seperti saudara kita ini.” Disanjung demikian Him merasa terbang.
“Baiklah, kita ke ayat keenam. Ihdinas shirâthal mustaqîm (Tuhan, bentangkan di hadapan kami jalan yang benar). Apa yang anda rasakan ketika membaca ayat ini?” tanya Mamik Seni memancing.
Suasanan sejenak tenang. Tak ada suara.
“Sebuah permintaan menuntut konsistensi kita menerima apapun konsekwensi jika sebuah permintaan dipenuhi. Ayat keenam ini adalah sebuah permintaan yang sungguh-sungguh yang diajarkan Tuhan kepada kita. Inilah jenis permintaan pertama dan satu-satunya dalam sebuah surat yang merupakan intisari Quran.
“Ini berarti bahwa isi permintaan ini sangat penting sehingga Tuhan sendiri yang mengajarkannya. Jelas sekali bahwa yang diajarkan oleh Tuhan adalah agar kita minta dihamparkan jalan yang lurus—as-shirâthal mustaqîm.  Ayat ini mengajari kita pintu keenam kesuksesan yaitu setia pada kebenaran—menjalani hidup dengan mengikuti kata hati. Kesuksesan itu tidak hanya ketika kita mendapatkan keberlimpahan materi, tetapi yang lebih utama adalah pada bagaimana kita meraihnya. Mungkin untuk sementara kita dapat meraih “kesuksesan”—dalam tanda kutip—tanpa setia pada kebenaran, tetapi sejarah menunjukkan bahwa kesuksesan seperti ini tidak lama. Mengapa? Sebab kesuksesan semacam ini bersifat sangat individual dan terbatas. Kita untung tetapi pada saat yang sama merugikan orang lain. Artinya telah terjadi ketidakseimbangan sosial. Dimanapun, ketika ketidakseimbangan terjadi maka kehidupan akan menjadi rawan dan mudah meledak, membuyarkan. Maka seseorang bisa saja kaya sendiri tetapi hidupnya sungguh dalam ancaman.”
Tak ada tanggapan, maka Mamik Seni menlanjutkan.
“Ayat ketujuh, shirâthal ladzîna an’amta ‘alaihim ghairil maghdhûbi ‘alaihim wa ladhdhâllîn (Jalan orang yang Engkau anugrahi kesempurnaan nikmat: yang tidak pernah membuat-Mu murka, dan tidak pula jalan orang yang tersesat), mengajarkan kita untuk selalu menempuh jalan damai, jalan kenikmatan, bukan jalan yang dipenuhi amarah dan benci.
“Ayat ini terkait dengan ayat pertama dan ayat ketiga yang menegaskan sifat Allah yang Mencintai dan Menyayangi dengan sepenuhnya. Melakukan sesuatu atas nama Allah berarti melakuknya atas nama cinta dan kasih sayang. Jalan cinta dan kasih sayang adalah jalan nikmat, jalan damai, jalan yang terhindar dari angkara murka dan api kebencian.
“Penjelasan lebih rincin untuk tiap ayat akan kita diskusikan pada tadarusan-tadarusan berikutnya. Baiklah besok pagi kita ketemua lagi. Wassalamu alaikum.”
Jakarta-Palangka Raya, 16/07/12



[1] Mamik berarti bapak. Di Lombok kata ini adalah panggilan penghormatan kepada seorang bapak yang judah naik haji. Kalau belum haji dipanggil amak.
[2] Nama sebenarnya adalah Husni. Di masyarakat Lombok panggilan seseorang seringkali diringkas dan biasanya agak sedikit unik. Misalnya, Husni jadi Seni, Aminah jadi Inok, Hikmah jadi Kemah, dan lain-lain.
[3] Papuk-balo’ adalah kakek-nenek.
[4] Tiang adalah bahasa halus untuk saya.

Kamis, 09 Februari 2012


ISLAM, YES. LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM?*

Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengajak mengingat kembali kondisi politik umat Islam sekitar tahun 70an dan sebelumnya. Saat itu, muncul semacam antusiasme menunjukkan identitas keislaman dari kalangan menengah atas umat Islam, setidaknya dalam sikap-sikap formal mereka. Meskipun hal itu, seperti diungkap Nurcholish Madjid (1970), menyimpan pertanyaan apakah itu akibat murni dari daya tarik ide-ide yang ditampilkan oleh pemimpin Islam atau merupakan gejala adaptasi sosial-politik karena “kemenangan” umat Islam atas partai komunis?

Pertanyaan apakah itu akibat murni, atau dalam bahasa Nurcholis Madjid saat itu “akibat daya tarik yang jujur”, menjadi penting karena pada tataran riil politik kalangan menengah umat umumnya justru tidak tertarik kepada partai-partai atau organisasi-organisasi Islam. Gejala tersebut oleh Cak Nur dirumuskan sebagai sikap ‘Islam, yes, Partai Islam, no’ umat Islam. Dalam bahasanya yang gamblang Cak Nur menyimpulkan sebagai berikut: “Jadi, jika Partai Islam itu merupakan wadah ide-ide yang hendak diperjuangkan berdasarkan Islam, maka jelaslah bahwa ide-ide itu sekarang dalam keadaan tidak menarik. Dengan perkataan lain, ide-ide dan pemikiran-pemikiran Islam itu sekarang sedang menjadi absolute menfosil, kehilangan dinamika.”

Dari sudut padang yang agak berbeda, saya ingin menganalogikan kondisi politik umat Islam saat itu dengan dunia pendidikan umat Islam akhir-akhir ini. 

Ada semacam pengakuan atau setidaknya kesadaran di kalangan umat Islam sampai saat ini, mereka belum bisa menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang bermutu, menarik dan dinamis dari tingkat prasekolah sampai perguruan tinggi. Hal itu bisa dilihat dari langkanya lembaga pendidikan Islam yang menonjol dalam prestasi. Tercatat misalnya hanya segelintir siswanya yang berhasil menembus persaingan masuk dalam tim olimpiade (science and math) pelajar Indonesia. Begitu juga, tidak banyak yang dapat berhasil menembus SPMB (dulu UMPTN). Pro-kontra UU Sisdiknas sebelum disahkan beberapa waktu lalu adalah indikator lain yang menunjukkan lemahnya daya tawar lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Pasal kontroversial UU Sisdiknas bisa jadi tidak akan muncul jika saja lembaga pendidikan Islam mampu bersaing dan menjadi pilihan umat Islam.

♦♦♦

Sejauh ini beberapa kajian menjelaskan bahwa ketertinggalan lembaga-lembaga pendidikan Islam dikaitkan dengan lemahnya profesionalisme tenaga pendidik, minimnya kemampuan finansial yang berakibat pada ketidakmampuan mengadakan sarana-prasarana penunjang yang memadai, dsb. Semua analisa tersebut tentunya tidak salah karena memang demikianlah umumnya keadaan lembaga pendidikan Islam.

Ada penyebab lain yang seringkali terlewatkan, yaitu persoalan visi dan filosofi pendidikan Islam itu sendiri. Mengapa madrasah ada? Ada apa di balik kemunculan sekolah-sekolah atau perguruan tinggi-perguruan tinggi berlabel Islam? Di samping karena panggilan dakwah melalui pendidikan, kemunculan lembaga-lembaga tersebut didorong oleh asumsi bahwa lembaga-lembaga pendidikan yang ada tidak menawarkan pendidikan yang Islami. Hal itu, menurut asumsi tersebut, ditandai oleh misalnya kurangnya pendidikan agama yang diberikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Sebaliknya, pelajaran-pelajaran umum (sekuler) sangat dominan.

Belakangan muncul gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan di kalangan ilmuan dan pendidik Muslim. Asumsinya ilmu-ilmu yang berkembang selama ini kering dari sentuhan spirit Islam. Akibatnya muncul kekacauan dalam penerapan temuan-temuan teknologi sebagai hasil dari ilmu-ilmu sekuler tersebut. Ide yang paling menarik sesunggunya adalah gerakan Islamisaisi tersebut berujung pada usaha menghilangkan dikotomi ilmu pengetahuan dalam Islam. Bahwa ilmu-ilmu pengetahuan hasil kerja keras manusia itu adalah bagian dari ilmu-ilmu Islam juga, atau setidaknya tidak bertentangan dengan semangat keislaman.

Di kalangan pendidik muslim, gejala ini direspon dengan mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum dalam lembaga-lembaga Islam. Anak didik di sekolah-sekolah Islam dikenalkan dengan ilmu-ilmu umum tentunya dengan semangat bagian dari mempelajari Islam itu sendiri.

Namun perubahan perspektif non-dikotomik ini tidak dibarengi dengan perubahan dalam menyikapi lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu tersebut. Ini misalnya terlihat dari hampir tidak ada pandangan yang secara tegas menyebutkan bahwa sekolah umum itu adalah juga sekolah Islam. Sekolah-sekolah umum tersebut atau juga perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut tetap saja dipandang sebagai bukan lembaga pendidikan Islam. Karena itu ketika ada sekolah umum yang ingin mempertegas identitas keislamannya maka di akhirnya dibubuhkan kata “Islam” atau setidaknya kata yang mengandung kesan keislaman, seperti SD Islam al-Izhar, SMP Muhammadiyah, SMU al-Ma’arif, dan sebagainya. Sebaliknya untuk menegaskan sikap non-dikotomik madrasah maka madrasah itupun harus didefinsikan sebagai “sekolah umum yang berciri khas Islam”. Hal ini tentu saja justru menegaskan praktek dikotomik dalam memandang pendidikan, dan ambivalen terhadap pandangan Islam yang integral tentang keilmuan itu sendiri.

Masalahnya kemudian lembaga-lembaga pendidikan Islam itu tidak banyak yang memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan menjanjikan. Keindahan visi dan misinya tidak terefleskikan dalam kenyataan lembaga pendidikan tersebut. Lembaga pendidikan Islam tetaplah tertinggal dalam penguasaan ilmu-ilmu umum dibanding sekolah atau universitas umum. 

Menurut saya, jika kita komitmen terhadap pandangan-dunia (world view) Islam yang tidak membedakan derivasi-derivasi ilmu dan tetap memandangnya sebagai bagian integral ilmu-ilmu keislaman, maka konsekwensinya sikap semacam ini haruslah diubah. Kita harus berani menegaskan bahwa sekolah-sekolah umum itu adalah juga sekolah Islam. Dan bahwa definisi madrasah sebagai sekolah umum yang berciri khas Islam perlu dipikirkan ulang. Sebab, defenisi ini jelas sekali menunjukkan pandangan dikotomik. Bukankah sekolah (baca: belajar) itu secara intrinsik adalah sesuatu yang Islami? Pun, secara konseptual tidak ada yang tidak Islami dengan sekolah yang sudah kita kenal sekarang. Bahwa ada deviasi dari konsep intinya itu persoalan lain. Bukankah selalu ada gap antara cita dan fakta pada hampir semua institusi kehidupan?

Bila ini yang kita ambil maka konsekwensinya perbedaan antara madrasah, misalnya, dengan sekolah umum hanya pada pilihan spesialisasi yang diajarkan. Perbedaan penyebutan hanya untuk keperluan teknis bukan prinsip. Artinya, madrasah adalah lembaga pendidikan yang secara khusus menekuni ilmu-ilmu Islam qur’aniyah (metafisik, atau syar’iyah, meminjam istilah Imam Al-Ghozali), sementara sekolah umum adalah lembaga pendidikan yang secara khusus mendalami ilmu-ilmu Islam kauniyah (empirik, atau ‘aqliyah). Hal yang sama juga berlaku untuk pendidikan Islam pada perguruan tinggi.

Pandangan ini penting setidaknya agar umat Islam tidak merasa “risih” karena merasa tidak memasukkan anaknya di lembaga pendidikan Islam. Pada kenyataannya nuansa Islami pada sekolah-sekolah atau perguruan tinggi-perguruan tinggi umum seringkali lebih terasa.***


* Dimuat di Jurnal SinarLima, Edisi 3 Januari 2012.